Jika kamu ditanya, "Kalau lapar, bagusnya makan atau minum?" Jawabannya sudah pasti makan.
Jika ada pertanyaan lagi, "Kalau sakit, bagusnya minum obat atau minum kopi?", Jawabannya sudah pasti minum obat.
Namun, jika pertanyaannya semakin mengerucut, "Bagus minum obat paten atau generik?"
Jawabannya, bisa dua-duanya bagus, bisa dua-duanya tidak bagus. Lho, koq bisa gitu?
Aku akan beri contoh:
Misalkan kamu sedang pilek, lantas kamu dikasih obat yang namanya PONSTAN, jangan salah, ponstan itu obat paten, pertanyaannya bagus atau tidak?
Misalkan lagi, kamu sakit gigi, lantas kamu dikasih obat yang namanya ASAM MEFENAMAT, dan perlu diketahui, asam mefenamat adalah obat generik, pertanyaannya bagus atau tidak?
Saat pilek, meski kamu diberikan obat paten PONSTAN. Itu tidak bagus, karena PONSTAN itu khasiatnya antinyeri.
Saat sakit gigi, meski kamu dikasih ASAM MFENAMAT yang generik, itu bagus, karena memang sudah peruntukannya: antinyeri.
Jadi, persoalannya bukan bagus atau tidak bagus, tapi cocok atau tidak. Jika pertanyaannya bagus atau tidak bagus, semua obat yang diproduksi industri farmasi yang resmi, sudah pasti, aku katakan, bagus. Secara ada yang namanya QC (Quality Control) dan QA (Quality Assurance), terlepas obat tersebut generik atau paten.
Definisi bagus mungkin bergeser, jika obat tersebut sesuai peruntukannya dan cocok, maka itu bisa disebut bagus. Namun jika terjadi hal seperti ini, misal ada orang kena alergi, kemudian diberikan cetirizine. Secara peruntukan itu sudah cocok, tapi kadang kurang terasa efeknya dibandingkan dengan pemberian loratadine.
Pertanyaannya, bagus loratadine atau cetirizine?
Sementara, kita tahu bahwa loratadine dan cetirizine sama-sama obat generik. Dan keduanya sama-sama obat untuk alergi.
Di sini kita STUCK.
Kemudian, analogi lain, jika ada seseorang mengalami alergi, kemudian dia lebih cocok minum INCIDAL OD ketimbang cetirizine. Bisa jadi menurut dia bagus INCIDAL OD, padahal secara peruntukan, kedua obat tersebut sama-sama untuk alergi, bahkan dengan kandungan yang sama. Bedanya, incidal paten, cetirizine generik. Kasus lain, malah ada pasien yang lebih cocok minum cetirine ketimbang incidal.
Di sini juga kita STUCK.
Kita masuk ke kesimpulan.
Jika kamu sakit, pastikan dulu diagnosisnya apa, harus jelas. Jangan tebak-tebak berhadiah. Soal diganosis, tentu saja pihak yang kompeten adalah dokter. Hanya saja, kalau saya boleh berpesan, pastikan juga bahwa dokter tersebut menegakkan diganosis secara tepat, alias tidak tebak-tebak berhadiah --dengan dalih sudah pengalaman-- juga.
Jika secara diagnosis sudah jelas, kemudian kamu diberikan obat yang tepat, terlepas generik atau paten, dan pada akhirnya kamu tidak cocok, bisa jadi hanya akan dilakukan penyesuaian mengenai dosis atau mengganti golongan obatnya saja. Dan ini lebih minim resiko, ketimbang kamu digempur berbagai macam obat (polifarmasi) hanya karena diganosis belum diketahui.
Jika ada pertanyaan lanjutan mengenai obat, monggo datang ke apotek kami!
Jika ada pertanyaan lagi, "Kalau sakit, bagusnya minum obat atau minum kopi?", Jawabannya sudah pasti minum obat.
ilustrasi obat/photo: unsplash
Namun, jika pertanyaannya semakin mengerucut, "Bagus minum obat paten atau generik?"
Jawabannya, bisa dua-duanya bagus, bisa dua-duanya tidak bagus. Lho, koq bisa gitu?
Aku akan beri contoh:
Misalkan kamu sedang pilek, lantas kamu dikasih obat yang namanya PONSTAN, jangan salah, ponstan itu obat paten, pertanyaannya bagus atau tidak?
Misalkan lagi, kamu sakit gigi, lantas kamu dikasih obat yang namanya ASAM MEFENAMAT, dan perlu diketahui, asam mefenamat adalah obat generik, pertanyaannya bagus atau tidak?
Saat pilek, meski kamu diberikan obat paten PONSTAN. Itu tidak bagus, karena PONSTAN itu khasiatnya antinyeri.
Saat sakit gigi, meski kamu dikasih ASAM MFENAMAT yang generik, itu bagus, karena memang sudah peruntukannya: antinyeri.
Jadi, persoalannya bukan bagus atau tidak bagus, tapi cocok atau tidak. Jika pertanyaannya bagus atau tidak bagus, semua obat yang diproduksi industri farmasi yang resmi, sudah pasti, aku katakan, bagus. Secara ada yang namanya QC (Quality Control) dan QA (Quality Assurance), terlepas obat tersebut generik atau paten.
Definisi bagus mungkin bergeser, jika obat tersebut sesuai peruntukannya dan cocok, maka itu bisa disebut bagus. Namun jika terjadi hal seperti ini, misal ada orang kena alergi, kemudian diberikan cetirizine. Secara peruntukan itu sudah cocok, tapi kadang kurang terasa efeknya dibandingkan dengan pemberian loratadine.
Pertanyaannya, bagus loratadine atau cetirizine?
Sementara, kita tahu bahwa loratadine dan cetirizine sama-sama obat generik. Dan keduanya sama-sama obat untuk alergi.
Di sini kita STUCK.
Kemudian, analogi lain, jika ada seseorang mengalami alergi, kemudian dia lebih cocok minum INCIDAL OD ketimbang cetirizine. Bisa jadi menurut dia bagus INCIDAL OD, padahal secara peruntukan, kedua obat tersebut sama-sama untuk alergi, bahkan dengan kandungan yang sama. Bedanya, incidal paten, cetirizine generik. Kasus lain, malah ada pasien yang lebih cocok minum cetirine ketimbang incidal.
Di sini juga kita STUCK.
Kita masuk ke kesimpulan.
Jika kamu sakit, pastikan dulu diagnosisnya apa, harus jelas. Jangan tebak-tebak berhadiah. Soal diganosis, tentu saja pihak yang kompeten adalah dokter. Hanya saja, kalau saya boleh berpesan, pastikan juga bahwa dokter tersebut menegakkan diganosis secara tepat, alias tidak tebak-tebak berhadiah --dengan dalih sudah pengalaman-- juga.
Jika secara diagnosis sudah jelas, kemudian kamu diberikan obat yang tepat, terlepas generik atau paten, dan pada akhirnya kamu tidak cocok, bisa jadi hanya akan dilakukan penyesuaian mengenai dosis atau mengganti golongan obatnya saja. Dan ini lebih minim resiko, ketimbang kamu digempur berbagai macam obat (polifarmasi) hanya karena diganosis belum diketahui.
Jika ada pertanyaan lanjutan mengenai obat, monggo datang ke apotek kami!







Tidak ada komentar:
Posting Komentar