Tidak jarang, batuk baru sehari atau dua hari, ada yang sudah kangen dengan yang namanya antibiotik. Meriang sedikit, "Aku butuh antibiotik kayanya." Saking sedikit-sedikit minum antibiotik, bahkan sampai keluar lelucon, "Antibiotik sudah mirip kacang goreng." Walaupun aku juga heran, mengapa harus mengambil analogi kacang goreng. Yang lebih laku dari kacang goreng kan ada: antibiotik. Nanti, kalau ada yang rajin beli kacang goreng, tukang kacang gorengnya mengeluh, "Udah kaya beli antibiotik." Kalau sudah seperti ini, artinya ada yang salah dengan mindset kita.
Antibiotik yang tertuduh sebagai kacang tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah amoxicillin. Andaikata Kakek Flemming (Penemu Amoxicillin) masih hidup, niscaya beliau akan berurai air mata. Obat penyelamat hidup kebanggaannya, kini berubah menjadi kacang goreng. Ah, aku pun kurang suka kalau amoxicillin diibaratkan seperti kacang goreng. Memangnya kacang goreng selaku itu apa? Yang lebih laku di jaman ini adalah antigores, softcase, dan berita perceraian artis.
Bahwa Amoxicillin itu diibaratkan seperti kacang goreng, maknanya, penjualan antibiotik, apapun itu, sudah tidak terkontrol. Tulisan dalam box obat, "Harus diberikan dengan resep dokter." kini hanya hiasan belaka. Persis seperti tulisan di bungkus rokok, "Merokok membunuhmu." dan tanda dilarang buang sampah, tapi tepat di bawah tanda itu tertumpuk sampah setinggi 5 meter.
Pasien, Dokter, Apoteker. Peran itu kini bisa rancu. Pasien kini sudah bisa bertindak sebagai dokter sekaligus apoteker. Hanya karena bantuan situs web dan gejala-gejala umum dalam sebuah artikel mereka sudah bisa melakukan swa-diagnosis. Kalau dilihat dari sudut pandang melek teknologi dan gairah belajar, bisa jadi ini adalah kemajuan. Tapi jika bicara soal ahli dan peran, dewasa ini rasanya sudah kacau balau. Sebetulnya, ini pun menjadi tugas berat apotek sebagai penyalur langsung obat-obatan kapada pasien. Sisi lain, bisa jadi income. Sisi lain, salah-salah, jika salah diagnosis, apalagi non infeksi, antibiotik hanya menjadi racun belaka.
Baiknya begini saja, jika kamu merasakan satu penyakit infeksi, alangkah baiknya periksakan ke lab, untuk mengetahui secara jelas bagaimana jenis mikrobanya. Atau baiknya begini saja, coba kalau memang amu ber-swa-medikasi, baiknya antibiotik jadikan pilihan terakhir. Coba dulu dengan terapi non antibiotik, suplemen, gaya hidup sehat, atau herbal. Ah, masih dilematis juga.
Begini saja, deh. Jika masih ragu soal penggunaan antibiotik, paling tidak segera konsultasi ke dokter atau apoteker. Nah, di situ semoga ada jawaban. Kamu butuh antibiotik atau tidak. Kalaupun dibutuhkan, dengan cerita ke pakarnya, bisa dipilihkan yang terbaik. Bukan sekedar kacang goreng. Karena selaku-lakunya antibiotik, belum tentu itu cocok untukmu.
ilustrasi kacang goreng/photo: unsplash
Antibiotik yang tertuduh sebagai kacang tersebut, tidak lain dan tidak bukan adalah amoxicillin. Andaikata Kakek Flemming (Penemu Amoxicillin) masih hidup, niscaya beliau akan berurai air mata. Obat penyelamat hidup kebanggaannya, kini berubah menjadi kacang goreng. Ah, aku pun kurang suka kalau amoxicillin diibaratkan seperti kacang goreng. Memangnya kacang goreng selaku itu apa? Yang lebih laku di jaman ini adalah antigores, softcase, dan berita perceraian artis.
Bahwa Amoxicillin itu diibaratkan seperti kacang goreng, maknanya, penjualan antibiotik, apapun itu, sudah tidak terkontrol. Tulisan dalam box obat, "Harus diberikan dengan resep dokter." kini hanya hiasan belaka. Persis seperti tulisan di bungkus rokok, "Merokok membunuhmu." dan tanda dilarang buang sampah, tapi tepat di bawah tanda itu tertumpuk sampah setinggi 5 meter.
Pasien, Dokter, Apoteker. Peran itu kini bisa rancu. Pasien kini sudah bisa bertindak sebagai dokter sekaligus apoteker. Hanya karena bantuan situs web dan gejala-gejala umum dalam sebuah artikel mereka sudah bisa melakukan swa-diagnosis. Kalau dilihat dari sudut pandang melek teknologi dan gairah belajar, bisa jadi ini adalah kemajuan. Tapi jika bicara soal ahli dan peran, dewasa ini rasanya sudah kacau balau. Sebetulnya, ini pun menjadi tugas berat apotek sebagai penyalur langsung obat-obatan kapada pasien. Sisi lain, bisa jadi income. Sisi lain, salah-salah, jika salah diagnosis, apalagi non infeksi, antibiotik hanya menjadi racun belaka.
Baiknya begini saja, jika kamu merasakan satu penyakit infeksi, alangkah baiknya periksakan ke lab, untuk mengetahui secara jelas bagaimana jenis mikrobanya. Atau baiknya begini saja, coba kalau memang amu ber-swa-medikasi, baiknya antibiotik jadikan pilihan terakhir. Coba dulu dengan terapi non antibiotik, suplemen, gaya hidup sehat, atau herbal. Ah, masih dilematis juga.
Begini saja, deh. Jika masih ragu soal penggunaan antibiotik, paling tidak segera konsultasi ke dokter atau apoteker. Nah, di situ semoga ada jawaban. Kamu butuh antibiotik atau tidak. Kalaupun dibutuhkan, dengan cerita ke pakarnya, bisa dipilihkan yang terbaik. Bukan sekedar kacang goreng. Karena selaku-lakunya antibiotik, belum tentu itu cocok untukmu.







Tidak ada komentar:
Posting Komentar